BANDARLAMPUNG – Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan persoalan rumah tangga atau broken home dinilai membutuhkan perhatian dan pendampingan ekstra agar tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif.
Hal tersebut menjadi perhatian Wiwik Anggraini, S.H., dalam kegiatan sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan (PIP-WK) di wilayah Kota Sepang, Kecamatan Kedaton, pada Senin (26/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Wiwik mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pergaulan dan perkembangan anak. Minimnya perhatian serta kasih sayang di lingkungan keluarga, menurutnya, dapat membuat anak mencari penerimaan di luar rumah dan meningkatkan kerentanan mereka terhadap berbagai pengaruh negatif.
“Anak-anak dari keluarga broken home sangat rentan jika kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Mereka bisa mencari pelarian di luar rumah, sehingga berisiko terpapar pengaruh buruk media sosial, perundungan, geng motor, narkoba, hingga paham terorisme,” tegas Wiwik.
Anggota Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung ini menekankan bahwa keluarga memiliki peran mendasar dalam membentuk karakter dan melindungi anak dari berbagai ancaman sosial.
Karena itu, penanaman nilai-nilai Pancasila perlu dimulai dari lingkungan keluarga melalui keteladanan, komunikasi yang baik, serta perhatian terhadap kebutuhan emosional anak.
Kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila ini menghadirkan dua narasumber yang memberikan pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Narasumber pertama, Widiya Eka Putri, dosen Universitas Lampung (Unila), mengulas persoalan perundungan atau bullying pada anak. Ia menjelaskan bahwa kondisi keluarga dan tekanan psikologis dapat memengaruhi perilaku anak, baik sebagai korban maupun pelaku perundungan. Oleh sebab itu, pendampingan dan dukungan dari lingkungan terdekat sangat diperlukan.
Sementara Ustadz Suparman Abdul Karim, Ketua Baitul Muslimin, memaparkan ancaman radikalisme dan terorisme yang dapat menyasar anak muda, terutama mereka yang sedang mencari jati diri dan membutuhkan dukungan sosial.
“Kelompok radikal dapat memanfaatkan kondisi anak-anak yang merasa kesepian dan kehilangan arah. Mereka menawarkan pemahaman yang tampak menarik pada awalnya. Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus diperkuat bersama pemahaman agama yang moderat,” jelas Ustadz Abdul Karim.
Melalui kegiatan ini, Wiwik berharap para orang tua semakin menyadari pentingnya membangun kedekatan emosional dengan anak.
Menurutnya, pengawasan tidak cukup hanya dengan membatasi pergaulan, tetapi juga harus disertai komunikasi terbuka, perhatian, dan pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi anak
Karena itu diharapkan penguatan nilai Pancasila di lingkungan keluarga dan masyarakat dapat menjadi salah satu upaya membentengi generasi muda dari perundungan, penyalahgunaan narkoba, kekerasan, serta paham radikal. (*/ist)







