banner 728x250

PIP-WK: Pesan Agus Djumadi Bekali Anak dengan Akidah dan Akhlaq

  • Share
banner 468x60

BANDARLAMPUNG-Negara Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa dan budaya, Agama dan lainnya. Hadirnya Pancasila sebagai dasar negara menjadi perekat dan pemersatu bangsa.

Namun demikian, yang terpenting adalah bagaimana penerapan Pancasila di keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga tercipta rasa aman dan nyaman demi menjaga keutuhan NKRI.

banner 336x280

Demikian, diungkapkan Anggota Komisi III DPRD Bandarlampung, Agus Djumadi, dalam sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan (PIP-WK) di Kelurahan Beringin Jaya, Kecamatan Kemiling, Sabtu (10/12/2022).

“Ini adalah program DPRD untuk sosialisasi ideologis Pancasila, sesuai dengan makna yang terkandung di dalam Sila Pancasila, yang paling utama adalah jangan sampai anak-anak bangsa tidak bermoral dan tidak mengenal Tuhan karena ini sangat penting,” ujarnya.

Demikian juga, sambung politisi PKS ini dalam wawasan kebangsaan, di era zaman yang serba canggih saat ini semua berbasis internet, maka dari situ batasi anak dalam penggunaan gadget/Smartphone, bekali dengan norma agama dan akidah, jangan sampai anak salah pergaulan. “Kemarin kita dengar dan liat di medsos anak sekolah tawuran, ini adalah akibat dari degradasi moral anak, sehingga tidak mengenal lagi moral hal ini jelas akan mengancam rasa persatuan bangsa. Pendidikan moral itu penting, makanya kita bekali anak dengan moral dan akhlak yang mulia,” jelas Agus Djumadi.

Baca Juga  Honorer Dihapus Diganti Outsourcing, BKD Bandarlampung Mulai Pendataan

Sementara, narasumber dari Koramil Kemiling, Sandra Yusmar menjelaskan bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan dari lima Sila terdapat lambang yang memiliki makna tentang negara dan melambangkan dan normal-normal bangsa Indonesia.

Pada Sila pertama melambangkan bintang yang bermakna semua manusia Indonesia wajib berketuhanan sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Dan Sila ke dua adalah rantai yang bermakna bahwa manusia Indonesia harus memiliki akhlak dan beradab, mempunyai budi pekerti dan jiwa empati. “Kemarin itu ada anak sekolah tawuran ini adalah akibat tergerus nya rasa empati dan karena degradasi moral anak bangsa, maka dari itu mari ajarkan anak-anak berakhlaq yang mulia, ” ungkapnya.

Sila ke tiga melambangkan pohon beringin dimana artinya kita bersatu untuk NKRI.
Sila ke empat berlambang kepala banteng, yang artinya semua permasalahan dimusyawarahkan untuk mencapai mufakat. Dan Sila ke lima berlambang padi dan kapas artinya lambang kemakmuran, cukup sandang pangan dan papan.

Baca Juga  Bansos Rawan Diselewengkan, LSM akan Kawal Agar Tepat Sasaran

Di tempat yang sama narasumber yang ke dua, Aidi Adrian memaparkan bahwa kita semua bangsa Indonesia harus mengerti dan jangan pernah melupakan sejarah perjuangan bangsa.
Lahir Pancasila pada 1 Juni 1945 melalui sidang BPU-PKI yang merupakan badan persiapan kemerdekaan melakukan rapat yang diketuai oleh Ir. Sukarno yang beranggotakan dari berbagai unsur elemen-elemen bangsa sehingga lahir lah Piagam Jakarta dan ini juga menganut apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada saat hijrah ke Madinah dengan mengumpulkan semua orang Islam dan juga Yahudi, nasrani, sehingga terjadi sejarah Piagam Madinah.

“Konsensus pertama di dunia adalah Piagam Madinah. Dan tidak satupun Sila Pancasila yang bertentangan dengan semua penganut agama di Indonesia, karena itu jadikan Pancasila sebagai perekat bangsa,” tandasnya. (ron)

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *